Senin, 19 April 2021

P3K (PERTOLONGAN PERTAMA) DALAM PRAMUKA πŸ’‰πŸ©ΈπŸ’ŠπŸ©ΉπŸ©Ί



SALAM PRAMUKA!!!

        Bagi seorang anggota pramuka PPPK atau yang disingkat P3K memang wajib memiliki skil ini. karena berguna nanti disaat kita sedang melakukan perjalanan di hutan atau di daerah lainyya pada saat melakukan heking atau jelajah alam.
        Keterampilan Pertolongan Pertama merupakan salah satu kegiatan kepramukaan yangmemberikan bekal peserta didik dalam hal pengalaman :
  • Kewajiban diri untuk mengamalkan kode kehormatan pramuka
  • kepeduliannya terhadap masyarakat/orang lain.
  • kepeduliannya terhadap usaha meningkatkan citra Gerakan Pramuka di masayrakat.
        P3K ini sangatlah penting bagi kita dalam kehidupan sehari-hari, karena ketika kita atau orang lain yang terluka, kita bisa mengobati sendiri atau membantu orang lain yang terluka. untuk memahaminya sobat pengembara pramuka bisa menyimak materi dibawah ini :

Pengertian PPPK / P3K

        PPPK (First Aid) adalah upaya pertolongan dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik. Berarti pertolongan tersebut bukan sebagai pengobatan atau penanganan yang sempurna, tetapi hanyalah berupa pertolongan sementara yang dilakukan oleh petugas P3K (petugas medik atau orang awam) yang pertama melihat korban.

Tujuan P3K

        Tujuan P3K dibagi menjadi 4, antara lain :
    1. Mencegah kematian
    2. Mencegah cacat yang lebih berat
    3. Mencegah infeksi
    4. Mengurangi rasa sakit dan rasa takut
        Tindakan P3K yang dilakukan dengan benar akan mengurangi cacat atau penderitaan dan bahkan menyelamatkan korban dari kematian, tetapi bila tindakan P3K dilakukan tidak baik malah bisa memperburuk akibat kecelakaan bahkan membunuh korban.

Prinsip P3K

        Beberapa prinsip yang harus ditanamkan pada jiwa petugas P3K apabila menghadapi kecelakaan adalah sebagai berikut ini:
  1. Bersikaplah tenang, jangan panik. Anda diharap menjadi penolong bukan pembunuh atau menjadi korban selanjutnya (ditolong).
  2. Gunakan mata dengan jeli, setajam mata elang (mampu melihat burung kecil diantara dedaunan), kuatkan hatimu/ tega melakukan tindakan yang membuat korban menjerit kesakitan sementara demi keselamatannya, lakukan gerakan dengan tangkas dan tepat tanpa menambah kerusakan. (“Eagle eyes – Lion heart – Ladies hand”)
  3. Perhatikan keadaan sekitar kecelakaan cara terjadinya kecelakaan, cuaca dan sebagainya
  4. Perhatikan keadaan penderita apakah pingsan, ada perdarahan dan luka, patah tulang, merasa sangat kesakitan
  5. Periksa pernafasan korban. Kalau tidak bernafas, periksa dan bersihkan jalan nafas lalu berikan pernafasan bantuan (A, B = Airway, Breathing management)
  6. Periksa nadi/ denyut jantung korban. Kalau jantung berhenti, lakukan pijat jantung luar. Kalau ada perdarahan massif segera hentikan (C = Circulatory management)
  7. Apakah penderita Shock? Kalau shock cari dan atasi penyebabnya
  8. Setelah A, B, dan C stabil, periksa ulang cedera penyebab atau penyerta. Kalau ada fraktur (patah tulang lakukan pembidaian pada tulang yang patah). Janagn buru-buru menmindahkan atau membawa ke klinik atau rumah sakit sebelum tulang yang patah dibidai.
  9. Sementara memberikan pertolongan, anda juga harus menghubungi petugas medis atau rumah sakit rujukan.
  10. Setiap menemukan korban yang baru mati dengan tidak sewajarnya tanpa mengetahui penyebab kematian, maka urutan langkah penanganan harus baku menurut urutan A, B dan C sesuai kedaruratan penyebab kematian korban.
Pertolongan Pertama

1. Untuk pasien yang berhenti bernafas

        Kalau seseorang tiba-tiba napasnya berhenti, apapun latar belakangnya, harus segera dilakukan nafas buatan. Cara yang paling praktis dan efisien untuk menyelamatkan nyawa orang tersebut adalah dengan jalan : meniupkan nafas ke paru-paru korban.

Langkah-langkah pertolongan dengan napas buatan dari mulut ke mulut/hidung sebagai berikut:
  • Kepala korban diletakkan dengan posisi dagu mendongak ke atas
  • Rahang ditarik sampai mulut terbuka
  • Penolong membuka mulut lebar-lebar dan ditempelkan ke mulut korban rapat-rapat dan pencet hidung atau tutup hidung korban dengan pipi, atau dapat juga dengan jalan tutup mulut korban rapat-rapat selanjutnya penolong menempelkan mulutnya ke hidung korban dan meniupnya.
Tiup ke mulut/hidung korban, kepada : 
  • Orang dewasa secara teratur dan kuat ditiupkan 12 kali tiupan pada setiap menit. 
  • Anak-anak ditiupkan 20 kali tiap menit.
2. Bagi korban sengatan listrik
  • Penolong hendaknya berdiri di atas karet, karton, papan, atau karpet yang dalam keadaan kering.
  • Gunakan tongkat kering/papan kering untuk menarik atau mendorong kawat beraliran listrik yang menempel pada tubuh korban
  • Setelah kontak dengan aliran listrik tiada lagi, selanjutnya segera dilakukan nafas buatan sampai bantuan medis datang

3. Bagi pasien yang menderita pendarahan parah
  • Luka hendaknya ditutup kain kasa kompres yang steril, selanjutnya kain kasa kompres tersebut ditekan kuat-kuat dengan tangan sampai pendarahan berhenti.
  • Untuk menutup luka biasa juga menggunakan bahan yang bersih lainnya, misalnya kasa steril, saputangan bersih lainnya, handuk atau sobekan sprei yang semuanya sudah dicuci dan disetrika.
  • Kalau tidak tersedia peralatan yang steril, jangan ragu-ragu lagi menggunakan baju kotor atau tangan telanjang untuk menekan bagian yang luka agar darah tidak terus menerus mengucur karena kehilangan darah dari tubuh korban lebih berbahaya daripada resiko infeksi.
  • Luka yang sudah berdarah tidak boleh dibersihkan karena pendarahan akan membersihkan luka itu sendiri, yang boleh dibersihkan adalah kulit di sekitar luka, dengan air sabun atau air ledeng biasa atau air yang sudah dimasak.

4. Pertolongan pertama mengurangi shok

        Setiap kecelakaan, kebakaran, keracunan yang parah, sering kali disertai dengan shok baik ringan atau parah, bahkan sampai fatal, karena shok merupakan reaksi tubuh yang ditandai oleh melambatnya atau terhentinya peredaran darah dan berakibat penurunan persediaan darah pada organ-organ penting.

Tanda-tanda Shok
  • Denyut nadi cepat tapi lemah
  • Merasa lemas
  • Muka pucat
  • Kulit dingin, kerinagt dingin di kening dan telapak tangan, kadang-kadang pasien menggigil
  • Merasa haus
  • Merasa mual
  • Nafas tidak teratur
  • Tekanan darah sangat rendah
Pertolongan Pertama Mengurangi Shok antara lain dilakukan dengan cara :
  • Menghentikan pendarahan
  • Meniadakan hambatan-hambatan pada saluran nafas
  • Memberi nafas buatan
  • Menyelimuti dan meletakkan penderita pada posisi yang paling menyenangkan
Langkah-langkah Pelaksanaan Pertolongan Pertama Mengurangi Shok :
  • Pada semua kasus pendarahan serius, penderita selalu diancam shok, untuk itu diselimuti dan letakkan penderita pada posisi yang paling menyenangkan dan semua yang mengikat pada tubuh harus dilepaskan termasuk ikat pinggang.
  • Bila kaki tidak patah, tungkai dapat ditinggikan 30-45 cm di atas posisi kepala.
  • Selimuti pasien dan hindarkan dari lantai serta udara dingin
  • Usahakan pasien tidak melihat lukanya
  • Pasien/penderita yang sadar, tidak muntah dan tidak mengalami luka di perut, dapat diberi larutan shok yang terdiri dari :
    1. 1 sendok teh garam dapur
    2. ½ sendok teh tepung soda kue
    3. 4-5 gelas air
    4. dan bisa juga ditambah air kelapa/kopi kental/teh
  • perlakukan pasien dengan lemah lembut, sebab rasa nyeri akibat penanganan yang kasar bisa menjerumuskan korban pada shok yang lebih parah.
  • cepat-cepat panggil dokter
5. Patah Tulang

Fraktur tulang paha bagian atas
  • Sebelum memasang bidai usahakan meluruskan tulang seanatomis mungkin
  • Pasang bidai luar dari tumit hingga pinggang
  • Pasang bidai dalam dari tumit hingga selangkangan
  • Ikat dengan pembalut dasi lipatan 2 kali diatas dan diawah bagian yang patah
  • Tulang betis diikat dengan pembalut dasi lipatan 1 kali
  • Kedua lutut diikat dengan pembalut dasi lipatan 2 kali
  • Tumit diikat dengan pembalut dasi lipatan 3 kali
  • Bagian yang patah ditinggikan
Fraktur tulang paha bagian bawah
  • Pasang bidai luar dan dalam sepanjang tungkai
  • Pasang bidai dalam dari tumit hingga selangkangan
  • Ikat dengan pembalut dasi lipatan 2 kali diatas dan diawah bagian yang patah
  • Tulang betis diikat dengan pembalut dasi lipatan 1 kali
  • Kedua lutut diikat dengan pembalut dasi lipatan 2 kali
  • Tumit diikat dengan pembalut dasi lipatan 3 kali
  • Bagian yang patah ditinggikan
Fraktur tungkai bawah
  • Pasang bidai yang sudah dibungkus selimut dari tumit sampai paha bagian bawah
  • Berikan bantalan dibawah lutut dan pergelangan kaki
Fraktur tulang leher
  • Sangat berbahaya karena didalamnya ada MS (Medula spinalis/ SSTB) dan pembuluh darah
  • Cegah terjadinya shock
  • Bersihkan jalan nafas
  • Pasang Colar spine (penyangga leher)
  • Angkat ke atas tandu (Stretcher)
  • Baringkan dengan dipasang ganjal sekeliling leher
6. Luka gigitan anjing gila

        Anjing gila bergerak tanpa tujuan dan tanpa arah sehingga sering menabrak dan menggigit sesuatu yang menghalanginya, tidak mengenal tuannya lagi, badan sedikit membungkuk dan ekor jatuh, lidah menjulur dan mengeluarkan lendir dan takut air. Penyakit gila anjing disebabkan virus Rabies, dan penularannya ke anjing atau mahkluk lain termasuk manusia adalah lewat ludah yang mengandung virus rabies masuk ke dalam darah lewat luka gigitan.

Tindakan P3K :
  • Bersihkan luka dengan air dan sabun dibawah keran yang mengalir deras. Virus akan larut pada sabun dan dibuang oleh air yang mengalir.
  • Tutup luka dengan kain kasa steril dan balut
  • Bawa segera ke rumah sakit
  • Upayakan menangkap dan mengamati anjing tersebut selama 2 minggu

Senin, 12 April 2021

πŸ” SANDI PRAMUKA & PENERAPANNYA πŸ”Ž


S A N D I   S E M A P H O R E 🚩


Salah satu cara yang paling mudah dan cepat dalam menghafalkan kode isyarat semaphore adalah dengan menggunakan metode "8 Penjuru Mata Angin" atau terkadang disebut juga sebagai metode "Jarum Jam". Dengan metode ini, menghafalkan semaphore tidak dilakukan urut sesuai dengan urutan abjad, namun dihafalkan perkunci yang terdiri atas 7 kunci.

Dalam metode ini posisi tangan disusun dalam 8 titik di sekeliling tubuh yang meliputi titik di bawah tubuh, kiri bawah tubuh, samping kiri tubuh, kiri atas tubuh, atas tubuh, kanan atas tubuh, samping kanan tubuh, dan kanan bawah tubuh. Selengkapnya lihat gambar berikut:


Lingkaran semphore metode 8 penjuru mata angin

Selasa, 08 Oktober 2019

MERESENSI BUKU CERITA ANAK


Nama : Bunga Anggraeni Rahayu
NIM : A1D118181
Kelas : R005 2018


Judul Buku : Seri Fabel Teladan “Nasihat Ibu Ikan”
Penulis : Leni Aryani
Penerbit : Bintang Indonesia
Tempat Terbit : Jakarta
Tebal : 24 halaman
Nomor ISBN : 9786023703128
Ilustrator : Tim Bintang Indonesia
Kategori : Cerita Anak
Teks Bahasa : Indonesia, English
Harga : Rp.10.000

Pendahuluan
Tujuan buku ini diterbitkan agar menjadi pegangan bagi para orang tua dan guru untuk mendongengkan anak-anak dan murid-muridnya. Sebab mendongeng mampu mendekakan hati dan jiwa anak-anak kepada orang tua dan gurunya. Harapannya adalah orang tua dan guru sendiri yang menyampaikan secara langsung cerpen ini kepada anak-anaknya.

Sinopsis
Di sebuah sungai, tinggalah seekor ibu ikan dan anaknya. Ibu ikan sangat menyayangi anaknya. Setiap hari ia selalu mengajarkan anaknya untuk mencari makan dan bertahan hidup. Ia selalu menasehati anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. “Suatu saat nanti kau akan menemukan cacing yang terlihat lezat. Cacing itu berada di sebuah kail dan di ikat oleh tali yang tak terlihat oleh mata kita. Namun cacing itu terlihat sangat menggiurkan sehingga membuat siapa saja ingin memakannya.” Nasehat si ibu ikan. Tetapi itu hanya muslihat manusia. Setelah ada ikan yang memakannya, ikan-ikan akan mati karena sudah tidak hidup dalam air lagi. Ikan itu akan dibawa manusia pulang untuk dipotong dan dibumbui. Kemudian dimasukkan kedalam minyak yang mendidih. Maka habislah ikan itu.” Ucap Ibu. Si anak hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar nasehat ibunya. Namun dalam hatinya, ia tidak percaya. Lambat laun anak ikan itu pun tumbuh dewasa. Setiap hari ia berenang mencari makan sendiri tanpa ditemani ibunya lagi. Suatu ketika, ia bermain bersama teman-temannya, tiba-tiba ia melihat seekor cacing yang sangat menggiurkan. Teman-temannya yang lain langsung pergi karena mereka teringat cerita orang tua mereka, namun tidak dengan si anak ikan ini. Dengan rakusnya ia memakan cacing tersebut, namun tiba-tiba ia merasa ada yang menancap di mulutnya yaitu kail. Ia mencoba melepaskan diri, namun ia tak berhasil. Ia teringat nasehat ibunya dan menyesal telah mengabaikannya. Tapi semua sudah terlambat, si anak ikan telah diangkat oleh nelayan dan akan menjadi santapan manusia.

Analisis Unsur Instrinsik
Tema : Nasihat Untuk Kebaikan
Tokoh : Anak Ikan, Ibu Ikan
Perwatakan:
· Anak Ikan : Ceroboh, gegabah, tidak patuh, tidak penurut, rakus
· Ibu Ikan : Baik, penyabar, penyayang, lemah lembut
Alur :  Maju
Latar waktu : Pagi yang cerah
Latar Tempat : Sungai
Amanat : Ingat Selalu nasihat orang tuamu meskipun mungkin kau tidak menyukainya. Tapi percayalah, mereka pasti menginginkan yang terbaik dalam hidupmu.

Analisis unsur Ekstrinsik
Nilai Moral : Jangan menyepelekan nasihat orang tua dalam hal kebaikan

Kelebihan
Menurut saya, buku ini bisa dibaca untuk anak-anak saat mereka menjelang tidur. Selain itu anak-anak juga bisa membacanya saat mereka belajar membaca, karena ceritanya yang tidak terlalu panjang serta memiliki desain yang menarik. Buku ini juga dilengkapi dengan teks bahasa inggris, anak-anak bisa sekaligus mengenal kosakata bahasa inggris. Tetapi dengan bantuan bahasa Indonesia anak-anak tetap dapat menikmati kisahnya serta kosakata bahasa inggris mereka akan meningkat.

Kekurangan
Penokohannya kurang menarik, lebih bagus lagi jika tokoh-tokoh dalam cerita anak ini mempunyai nama sehingga anak lebih tertarik dan mudah mengingatnya. Kemudian tidak ada dicantumkan tahun terbitnya dan keterangan cetakan keberapa.

Minggu, 02 Desember 2018

ARTIKEL KEWARGANEGARAAN

ARTIKEL KEWARGANEGARAAN
“Penting Tapi Disepelekan”




Dosen Pengampu : Drs. Irwan, M.Pd


Disusun Oleh :
Nama : Bunga Anggraeni Rahayu
NIM : A1C118043
Kelas : Reguler C







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018


KATA PENGANTAR


Puji Syukur Alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga artikel Kewarganegaraan “Penting Tapi Disepelekan” ini bisa selesai pada waktunya.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada Dosen Pengampu Pendidikan Kewarganegaraan, Bapak. Drs. Irwan, M.Pd., serta teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga artikel ini bisa disusun dengan baik dan rapi.
Kami berharap semoga artikel ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa artikel ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya artikel selanjutnya yang lebih baik lagi.

Muaro Jambi,     November 2018
                                                                                                                       
                                                                                                                 
                                                                                                       Penulis


PENTING TAPI DISEPELEKAN




Character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values—Thomas Lickona

— ‘Pendidikan Karakter’ adalah upaya yang disengaja untuk membantu orang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika inti —

Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling) dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter yang baik itu wajib didukung oleh pengetahuan kita tentang kebaikan, keinginan kita untuk berbuat baik, dan saat kita melakukan perbuatan kebaikan itu sendiri. Jika kita melihat dari kutipan diatas, tentu kita akan berfikir bahwa pendidikan karakter itu sangatlah penting. Siapapun, dimanapun, kapanpun, mau kemanapun, dan dengan kondisi apapun, semuanya membutuhkan Pendidikan Karakter. Kalian pasti bertanya-tanya, apa itu Pendidikan Karakter? Sepenting itukah? Apakah kita bukan apa-apa tanpa pendidikan karakter? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita telusuri Pendidikan Karakter.
Apa itu Pendidikan Karakter?
Pengertian Pendidikan Karakter menurut beberapa ahli :
1. Pendidikan Karakter Menurut Lickona
Secara sederhana, Pendidikan Karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian Pendidikan Karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
2. Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.
3. Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
4. Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).
Berdasarkan pengertian-pengertian Pendidikan Karakter menurut para ahli diatas, dapat saya tarik kesimpulan bahwa menurut pendapat saya pribadi Pendidikan Karakter merupakan suatu kegiatan yang diupayakan secara sengaja guna menjadikan seorang individu yang memiliki kepribadian cara berpikir dan berperilaku untuk hidup dan bekerja sama, baik di dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.

Pendidikan karakter mungkin terdengar biasa saja di telinga kita apalagi kita disini sebagai orang awam yang tidak begitu mengerti apa itu makna pendidikan dan karakter sebenarnya. Tapi ketahuilah bahwa karakter ini lah yang menjadi poin utama diri kita, karakterlah yang membawa kita menuju masa depan yang baik atau buruk, suka atau tidak suka, bahagia atau menderita, bermanfaat atau tidak bermanfaat. Bagaimana diri kita kedepannya semua ada di tangan kita sendiri. Orang lain hanya bisa melihat hasilnya, tapi hanya kitalah yang tahu betul bagaimana proses kita menuju itu semua. Pendidikan karaker itu bukan semata-mata kita berpendidikan, kita mengenyam pendidikan dari Sekolah Dasar (SD)  hingga lulus S1, kita berlabel sarjana, master, doktor, professor atau apapun itu semua hanya sekedar label, semua hanya sekedar pendidikan semata, tapi seseorang itu belum tentu mempunyai karakter, karena karakter bukanlah hanya milik orang-orang yang lulus S1, S2, maupun S3, tapi karakter bisa dimiliki oleh semua orang, karakter bersifat universal dan bebas, siapapun bisa memilikinya.
Tetapi, yang perlu kita garis bawahi yaitu apakah karakter yang kita miliki itu sudah baik, akan baik, atau tidak baik? Karakter mencakup etika seseorang, hal itulah yang membuat karakter memiliki 2 sifat, yaitu sifat baik atau buruk. Karakter itu sendiri jelas berbeda jalur dengan IQ seseorang, karena yang kita lihat pada kenyataan saat ini banyak orang cerdas yang tidak beretika, banyak orang yang daya intelektualnya tinggi tetapi untuk berkarakter yang baikpun tidak tahu. Contoh sederhananya saja di dalam proses pembelajaran khususnya di Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan bukanlah suatu hal yang penting menurut kita bahkan seringkali beberapa diantara kita meremehkan mata pelajaran itu. Pada saat seorang anak mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar pun kebanyakan dari orang tuanya tidak begitu menekankan sang anak pada pelajaran-pelajaran yang kaitannya lebih ke sosial, mereka jauh lebih sering menekankan kepada anak-anaknya pelajaran-pelajaran yang sifatnya eksak. Bukan hanya dari sisi orang dewasanya saja, bahkan dari sisi sang anak itu sendiri pun lebih condong ke hal-hal yang berbau ilmiah, karena bagi pandangan sang anak hal tersebut sangatlah keren dan luar biasa. Bukti realnya saja ketika guru menanyakan kepada murid-muridnya mau jadi apa saat besar nanti, sebagian besar dari mereka menjawab ‘ingin jadi dokter’ lalu sang guru menjawab ‘kalau mau jadi dokter harus pintar IPA (ilmu pengetahuan alam) dan Matematika’ kemudian setelahnya, oleh mereka, ilmu-ilmu selain ilmu MIPA (matematika dan ilmu-ilmu alam) benar-benar dinomor duakan. Apakah hal tersebut salah? Apakah menjadi seorang dokter maupun ilmuan bukan jalan yang benar? Tentu saja hal tersebut tidak bisa kita katakan salah, namun tidak pula sepenuhnya benar, atau lebih tepatnya pernyataan-pernyataan diatas masih kurang tepat, dan perlu pembenahan kembali lebih lanjut. Yang perlu kita pertanyakan yaitu apakah jika kita menjadi seorang dokter kita sudah bisa dikatakan memiliki karakter yang baik, apakah dengan ilmu MIPA saja kita akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia.
Sungguh miris jika kita melihat pendidikan saat ini, khususnya pendidikan di Negara kita tercinta ini, gaung pendidikan karakter belum sejalan dengan realisasinya di dunia pendidikan. Buktinya, pendidikan karakter masih disepelekan, belum diprioritaskan pada proses belajar mengajar, bahkan hanya sisipan di dalam mata pelajaran lain. Sementara di sekolah, guru orientasi mendorong dan menciptakan siswa yang hanya pintar sains, seperti matematika, kimia, dan fisika. Di rumah, orang tua akan lebih bangga terhadap anaknya yang bernilai bagus dan juara sains. Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, kita hanya menganggap bahwa mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya, banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.
Padahal, jika kita menelaah tentang pengertian hingga kasus-kasus seputar pendidikan dan karakter, kita akan tersadar bahwa pendidikan karakter yang meliputi norma-norma seperti, sopan santun, saling menghormati, toleransi, disiplin, suka menolong, dan mencintai lingkungan, kelihatannya sepele tetapi memiliki pengaruh sangat kuat dalam seluruh dimensi kehidupan manusia. Bahkan untuk Negara kita kedepannya, dengan memiliki penduduk-penduduk yang berkarakter juga akan menghasilkan bangsa yang berkarakter serta berdaya saing. Contohnya di Negara Jepang pendidikan karakter justru lebih diprioritaskan dari pendidikan lain selama seorang individu menempuh sebuah pendidikan. Bahkan kelakuan yang sederhana sekalipun, seperti cara menggunakan toilet umum, dan berbicara dengan orang lebih tua ditanamkan sejak pendidikan anak usia dini. Tidak bisa dipungkiri bahwa penduduk di negeri Sakura itu memiliki karakter kuat, seperti kedisiplinan dan sopan santun, dimanapun dan kapanpun  mereka berada. Nasionalisme juga demikian, sehingga tidak heran orang Jepang jarang mengidolakan ketokohan negara lain. Sedangkan kenyataan yang terjadi di Indonesia justru kita seperti melihat lawan kata dari pendidikan karakter Negara Jepang itu. Sangat miris, tetapi itulah yang terjadi, Negara Indonesia adalah Negara yang kaya akan kebudayaan, suku, agama, hasil tambang, flora dan fauna, tetapi sangat miskin karakter dan moral. How think?
Ada satu kasus yang akan membuat kalian langsung berfikir 7 keliling dimana akan semakin membuka cara pandang dan pola pikir kita,

Di Australia, ada anak yang tidak naik kelas 2 tahun berturut-turut karena menolak antrian saat makan siang, menyerobot antrian bus sekolah, tidak jujur dan berbohong tentang PR, dan perilaku yang tidak menghargai hak teman sekelasPadahal nilai akademiknya terbilang cemerlang.

Guru di Australia mengaku bahwa mereka lebih khawatir terhadap siswa yang tidak pandai mengantri daripada siswa yang tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Padahal jika dipikir-pikir, apalah pentingnya mengantri? Sebegitu pentingkah sampai-sampai tidak bisa membaca pun tidak apa-apa?
Kalian tentu pernah merasakan bagaimana lelahnya mengantri, rasa kesal, pegal, mati rasa, jengkel apalagi jika tiba-tiba ada yang menyelonong menyerobot main rebut antrian atau ada orang yang mengaku-ngaku untuk mengakali antrian. Nah di Australia, budaya mengantri merupakan pembelajaran etika paling mula dikenalkan kepada siswanya. Sepertinya terlihat sepele, tapi hikmah yang diharapkan dari budaya antri adalah saling menghormati hak orang lain, jujur, bersosialisasi, manajemen waktu, keterbukaan dan disiplin. Sebenarnya karakter dan etika sudah mulai ditanamkan dari grade rendah hingga menengah atas, atau sekitar 12 tahun wajib belajar. Untuk membentuk karakter siswa, 12 tahun adalah waktu yang cukup pendek. Untuk apa hal itu dilakukan?
Alasan yang mendasar adalah, tidak semua anak kelak menjadi seorang dokter, ahli matematika komplek atau seorang yang jenius di bidang TIK. Pada kenyataannya, hanya perhitungan dasar tambah, kurang, bagi, dan kali serta angka decimal yang dipakai sehari-hari. Namun sebaliknya, hal-hal kecil seperti mengantri atau membuang sampah pada tempatnya adalah etika kepribadian yang pasti akan dibawa semua anak hingga dewasa kelak.
Di Indonesia, sistem pendidikan nasional sebenarnya sudah lama mencanangkan PENDIKAR (Pendidikan Karakter) dalam upaya membekali siswa dengan karakter-karakter, bahkan di Inodeonesia dijelaskan dengan konsep yang lebih lengkap, sayangnya Implementasinya masih kurang. Kemudian, partisipasi dari orang tua siswa juga masih sangat rendah dalam memberikan dorongan pembentukan karakter. Contohnya, banyak orang tua siswa yang tidak terima anaknya dihukum padahal partisipasi mereka untuk ikut membentuk karakter anak didik pun juga kurang, buktinya mereka menyerahkan semuanya kesekolah.
Pada akhirnya, cara yang paling efektif untuk menanamkan karakter itu adalah contoh atau keteladanan orang tua dan guru. Sebab, anak adalah peniru terbaik di dunia. Semua yang dicontohkan orang tua otomatis menjadi bagian dari karakter anak.

"Pendidikan kita belum memenuhi tuntutan pendidikan karakter. Masih ada kekerasan di sekolah dan rumah, kurikulum semakin padat, dan cara mengajar yang belum ramah anak"Kak Seto

Cara lain sebagai pelengkap adalah melalui buku bacaan, dongeng, dan permainan yang bermuatan pendikan karakter. Melukis tentang lingkungan juga memberikan ruang bagi anak mengekspresikan kecintaan dan kepeduliannya terhadap lingkungan. Hidup ini bukan hanya untuk ilmu pengetahuan sains dan teknologi, tetapi Pendidikan Kewarganegaraan untuk membentuk pendidikan berkarakter itulah yang perlu lebih diperhatikan.

KESIMPULAN

Bukan rahasia lagi jika hal penting seperti religius, kejujuran, disiplin dan tanggungjawab tidak maksimal diterapkan di sekolah Indonesia. Orientasi pada nilai akademik, Ulangan dan Ujian Nasional dijadikan momok oleh guru untuk mendorong siswa belajar. Hal penting itulah yang dinamakan Karakter, untuk menjadikan karakter itu baik atau buruk maka diperlukan yang namanya Pendidikan Karakter. Pendidikan Karakter merupakan suatu kegiatan yang diupayakan secara sengaja guna menjadikan seorang individu yang memiliki kepribadian cara berpikir dan berperilaku untuk hidup dan bekerja sama, baik di dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.

DAFTAR PUSTAKA



THANK YOU!!!
HOPE YOU LIKE IT :))

Sabtu, 05 September 2015

CERPEN-YANG BARU TIDAK SELALU BEGITU

Kubuka lembaran kenangan indah yang dulu pernah kurasakan, album foto itu mengingatkanku pada masa dimana aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Terkadang aku merasa geli, sampai-sampai tidak sadar lagi jika sudah senyum-senyum sendiri. Ya, pasalnya masa-masa putih merahku dulu sungguh memalukan, bukan karena aku berbuat konyol, tetapi karena kisah hidupku dulu yang bak perasaan. Apalagi saat duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar, aku dan teman-temanku  merasa sudah yang paling senior dan sangat ditakuti oleh siapapun, termasuk guru-guru yang mengajar kami. Bagaimana tidak, guru baru yang mengajar di sekolahku pun bisa sakit dan hampir tidak mau mengajar lagi akibat ulahku dan teman-temanku.
“Eh, katanya mau ada guru baru ya Wa?”, tanya Widia penasaran.
“Meneketehe, tumerejane, manaku tau.”, jawabku singkat.
Widia yang tidak puas dengan jawabanku langsung pergi dari hadapanku dengan muka masam. Ia kembali melontarkan pertanyaan yang sama kepada Wida. Tapi, ia juga mendapat jawaban yang sama seperti jawabanku tadi,
“Ah kalian mah, aku tanya juga, jawabnya gitu-gitu mulu. Kan sebel!”
“Iya Wid, tadi aku liat di kantor ada ibu guru baru.”, jawab Jojo.
Akhirnya, rasa penasaran widia bisa terobati dengan jawaban sang pujaan hatinya itu. Ia langsung tersipu malu melihat Jojo ada disebelahnya dan menjawab pertanyaannya itu. Seketika seisi kelas pun rusuh. Aku, Wida, Yuli, dan yang lainnya bersorak sorai melihat dua insan yang sedang tersipu malu karena semua pandangan tertuju kepada mereka. Ya, beginilah keadaan anak yang sebentar lagi akan dewasa, sudah mulai bertingkah. Apalagi tidak lama lagi, kami akan keluar dari sini dan menempuh hidup baru, berkenalan dengan masa putih biru.
“Cie.. Widia.. cuit, cuit. Jojo juga cie, cie.”, gangguku.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9.30 WIB, waktu istirahat pun tiba. Aku dan Wida yang dari tadi sudah berencana untuk membeli tekwan langsung buru-buru bergegas menuju warung Bude Siti. Sudah lama sejak Bude Siti cuti berjualan aku tidak pernah lagi membeli tekwan. Rasanya masih sama, super maknyos, apalagi kalau pedas, jadi ingin tambah terus.
“Wa, kalo bener ada guru baru, terus ngajar kita, kita mau ngapain? Gak suka deh ada yang baru-baru, pasti gak enak. Kayak si Ade, anak baru yang nyebelin itu, akhirnya dia pindah kan.”, ucap Wida panjang lebar, sambil terus mensruput kuah tekwannya.
“Kita bully aja kali ya? Atau kita gangguin aja biar dia gak betah, terus jadinya pindah, hahaha.”, jawabku nyeleneh.
“Ini masalahnya guru Wa, bukan siswa. Kan takut, kalo entar kita dimarah sama Ibu Tuti, kepala sekolah kita tercinta.”, Wida kembali menjawab.
“Santai aja Wid, tinggal kabur kan beres, kalo gak mau ketemu guru barunya. Gitu aja kok susah amat.”, jawabku tenang.
Wida menghela napas panjang dan kembali memakan pentol tekwannya yang tinggal satu itu. Setelah puas makan tekwan, kami pun kembali ke kelas. Sebenarnya didalam hati, aku masih memikirkan perkataan wida tadi, aku baru sadar kalau perkataannya itu ada benarnya juga. Aku sangat-sangat tidak ingin ada guru baru yang mengajar di kelas kami. Sudah cukup si Ade saja yang tidak betah dan keluar gara-gara ulah kami. Entah kenapa aku, tidak, bukan aku saja, tapi semua teman-temanku, tidak suka dengan sesuatu yang baru. Kami menganggap itu, seperti penyeludup yang tiba-tiba masuk menyelinap ke rombongan kami yang sudah sangat klop ini.
Sampai di kelas, Anton langsung menghampiriku, dan mengatakan bahwa besok kami akan belajar Pendidikan Kewarganegaraan dengan ibu guru baru. Aku yang mendengar itu langsung shock, aku tidak tau lagi harus bagaimana, yang pasti aku sangat tidak percaya bahwa apa yang aku takutkan benar-benar terjadi.
“Oh, ok ton. Siapa yang bilang itu? Terus kita harus apa? Sambut pake Tari Persembahan?”, tanyaku agak sedikit dongkol.
“Tadi Pak Saragih datang ke kelas dan bilang begitu. Janganlah seperti itu Wa, kita harus berbaik sangka dulu, jangan langsung jiplak orang seperti itu, siapa tau ibu gurunya cantik dan baik.”, jawab Anton meluruskan.
Tapi, aku sama sekali tidak tertarik dengan kata-kata Anton yang sok bijak itu. Sampai kapan pun memang aku dan Anton tidak akan pernah bersatu. Kami selalu saja berbeda pikiran dan berdebat. Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, sampai akhirnya waktu yang memisahkan dan menghentikan sidang isbat kami ini.
Seperti biasa, aku, Wida dan Widia membentuk forum dibelakang, dan membicarakan tentang topik terhangat hari ini yaitu ibu guru baru. Lalu, kami mengambil kesimpulan untuk dibicarakan ke yang lain. Kami berencana untuk tidak mengikuti pelajaran ibu itu besok, dan tetap berada di luar. Siapapun yang menyuruh kami masuk, tidak akan kami dengarkan. Mau itu teman yang berkhianat kek, cleaning service kek, guru kek, bahkan kepala sekolah sekalipun tidak akan kami hiraukan. Kami berharap, hal itu bisa membuat sekolah sadar bahwa kami tidak mau ada guru baru. Kami lebih memilih belajar semua mata pelajaran dengan wali kelas kami, dibanding harus belajar dengan ibu guru baru. Kami berprinsip bahwa guru perempuan baru itu pasti centil, sok cantik, sok baik, dan cari perhatian. Dan pada kenyataannya, dia tidak bisa mengajar dengan baik, karena hanya memikirkan fashionnya saja. Ditambah lagi ibu guru baru itu masih muda kata Jojo.
“Hush! Jangan bicara seperti itu. Posthink dong, ibu gurunya cantik dan baik kayak aku.”, kata Keri.
“Kamu mau jadi pengkhianat ya Ker? Silahkan!”, bentakku sambil melotot kearah Keri.
Aku tahu betul, Keri akan diam jika aku sudah menjawab. Pasalnya, dia sangat takut padaku. Aku memang sangat jahat disini, tapi tidak dengan semuanya. Aku hanya akan jahat jika ada orang yang tidak sependapat padaku dan berbicara nyolot. Aku berharap setelah lulus dari Sekolah Dasar aku bisa menjadi wanita yang kalem dan lemah lembut. Tapi entahlah jika masih banyak orang yang berkhianat, mungkin aku akan terus membasmi mereka.
Tak terasa sudah berjalan setengah hari, lonceng pulang sekolah berbunyi. Buleku yang sedari tadi sudah menungguku di dekat gerbang memanggilku.
“Wawa cepet!”
“Iya bule”, teriakku.
Sesampainya di rumah, aku langsung ganti pakaian dan makan siang. Beruntung sekali aku hari ini, ibuku memasak makanan kesukaanku, Cumi Sambel Ijo. Selesai makan, kucari posisi wenak di depan televisi. Aku sudah tidak sabar lagi menonton acara di MNCTV siang ini, seperti biasa, “Upin Ipin dan Kawan-Kawan” dilanjutkan dengan “Boboi Boy”. Hobiku memang menonton hal-hal yang berbau kekanak-kanakan. Aku merasa seperti anak berumur 4 tahunan jika menonton kartun ini.
**********
Keesokan harinya, aku bergegas bersiap-siap untuk sekolah. Sialnya, aku lupa membereskan bukuku tadi malam, bapakku pun berangkat kerja lebih dulu dan meninggalkanku. Pagi ini, aku harus siap menerima omelan dari ibu karena ketelambatanku. Ibuku menyuruhku untuk menunggu orang lewat di depan rumah untuk dimintai tebengan. Padahal aku paling tidak suka jika harus melakukan ini. Tapi, jika aku tidak melakukannya, mungkin aku tidak akan sampai ke sekolah. Jika aku memilih untuk berjalan kaki, itu akan memakan waktu yang sangat lama, karena jarak dari rumahku ke sekolah sekitar 3 km.
Setelah lama menunggu, akhirnya aku pun mendapat tebengan dari tetanggaku yang hendak pergi ke kebun. Sesampainya di sekolah, seperti biasa, teman-teman segengku menghapiriku.
“Lama banget Wa datengnya, macet ya? Hahaha.”, goda wida.
“Tadi aku ditinggal sama bapak, jadi terpaksa harus menumpang tebengan.”, jawabku agak sedikit kesal.
Tapi tiba-tiba, pandanganku beralih ke wanita yang ada dihadapanku diseberang sana. Ya, wanita itu mengenakan pakaian formal rapi seperti guru. Tapi sepertinya, dia bukan guru di sekolahku. Aku belum pernah melihatnya sama sekali di sekolahku. Baju dan rok hijau muda yang ia kenakan, membuat pandangan semua orang tertuju padanya, termasuk aku.
“Itu dia ibu guru barunya.. cantikkan?”, seru Jojo meramaikan suasana yang memang sedari tadi hening.
“Hah? Cantik darimana Jo!? Orang belum keliatan juga mukanya. Huu…!”, jawabku sinis.
“Santai Wa.”, jawab Jojo sok asik.
“Ih, gak suka deh ada guru baru! Sepakatkan ntar kabur pas ibu itu masuk?”, seruku.
“Oke Wa.”, jawab Widia dan Wida.
“Biarin aja yang lain, mereka kan mau jadi pengkhianat. Biar jadi anak kesayangan terus dapet juara ngalahin aku.”, sindirku dengan menyombongkan diri.
Lonceng masuk berbunyi, aku, Wida, dan Widia, buru-buru masuk kelas mengambil tas dan siap-siap bolos. Sebelumnya aku menyeru kepada semua teman-temanku yang ada di kelas. Tapi, seperti yang sudah aku duga, pasti banyak yang berkhianat. Yang ikut denganku hanya ada 9 orang diantaranya ada Wida, Widia, Yuli, Heni, Anisa, Edi, Ade Kiki, Tri, bahkan Jojo yang tadinya memuji pun ikut rombongan kami. Jujur, aku memang anak yang nakal. Tapi, aku tidak pernah lepas dari peringkat satuku. Walaupun badung begini, aku masih tetap memikirkan prestasi.
“Assalamualaikum WR. WB.”, ibu guru baru masuk kelas mengucapkan salam.
“Walaikumsalam WR. WB.”, jawab anak-anak pengkhianat yang masih berada di kelas.
“Ini jumlah siswanya memang cuma segini? Bukannya ada 28 ya? Kemana yang lain?”, Tanyanya keheranan.
Tidak ada respon dari anak-anak, mereka semua terdiam. Begitu pula dengan sang guru. Mungkin karena dia guru baru, jadi dia tidak begitu mempermasalahkan hal itu. Buktinya, dia tidak kepo dengan pertanyaan yang belum dijawab tadi dan langsung memperkenalkan diri.
“Baiklah, perkenalkan nama lengkap ibu Nur Kumala, kalian bisa panggil saya bu Nur.”
Asal kalian tahu, sebenarnya kami bersepuluh ini mengintip dari jendela. Dan betapa kagetnya kami ketika bu Nur melihat ke arahku. Aku yang sudah tertangkap basah mengintip ini langsung panik dan berencana lari. Tapi, bu Nur langsung membuka jendela dan menyeru.
“Heyy…! Kalian bersepuluh kenapa tidak masuk kelas? Malah mengintip lagi!”, teriak bu Nur yang membuat kami sangat ketakutan.
“Mau kabur bu..”, jawabku ringan.
“Ya ampun, ada ya siswa yang seperti ini. Tidak tau sopan santun. Kecewa ibu, baru pertama kali ibu lihat ada siswa seperti ini.”, jawab bu Nur dengan muka memerah.
“Abisnya kita gak mau ada guru baru, guru baru tu ngeselin, kayak ibu. Baru masuk udah marah-marah.”, jawabku sambil bergegas pergi menjauh dari hadapan bu Nur.
“Mau kemana kalian?!”, teriak bu Nur lagi.
Kami sama sekali tidak menghiraukannya lagi, dan langsung kabur menjauh dari ruang kelas kami. Sialnya, kami tertangkap basah dengan guru lain. Walaupun sudah tertangkap basah, kami masih bisa lari. Bahkan kami main kejar-kejaran dengan satpam sekolah kami. Sampai akhirnya kami bertemu dengan kepala sekolah kami. Sepertinya bu Tuti marah besar melihat tingkah kami. Bisa dilihat dari mukanya yang seketika berubah menjadi seperti api yang berkobar-kobar. Tapi tetap saja kami abaikan, sampai akhirnya kami bersepuluh bisa sampai di pintu gerbang dan berhasil melarikan diri. Setelah dipikir-pikir, masalahnya memang sepele, hanya tidak ingin ada guru baru. Tapi, karena kami memang punya jiwa-jiwa pemberontak, ya begini akhirnya.
Sesampainya di rumah, aku sudah tidak punya pikiran lagi untuk ganti baju. Langsung ku rebahkan badanku di atas kasur dan tertidur pulas sampai sore.
*****
Tak terasa malam sudah berganti pagi, matahari sudah mulai menampakkan wajahnya. Hari ini aku sangat takut sekali berangkat sekolah, akibat ulah kami kemarin. Pasalnya, itu adalah bagian dari kenakalan kami yang paling parah. Tapi, karena memang aku sudah bebal, jadi aku tenang-tenang saja dan tetap berangkat sekolah seperti biasanya.
Benar dugaanku, saat jam pelajaran dimulai, wali kelasku masuk dengan muka yang berbeda, tidak seperti biasanya, yang selalu menebarkan senyuman. Kami, seluruh siswa/siswi kelas VI didikan pak Parjio, kena omel habis-habisan. Dan kami bersepuluh yang membuat masalah kemarin, disuruh menghadap bu Nur dan meminta maaf kepadanya.
Aku dan delapan orang lainnya, saat jam istirahat langsung pergi ke kantor untuk menemui bu Nur. Tapi ternyata bu Nur tidak ada. Yang membuat kami sangat kaget, ketika guru piket mengatakan bahwa bu Nur sakit, sehingga tidak bisa masuk. Aku yang kemarin beradu mulut dengan bu Nur sangat merasa bersalah, dan berencana sepulang sekolah nanti membeli sesuatu sebagai tanda permohonan maaf. Kami bersepuluh pun iuran dan membelikan mainan jilbab untuk bu Nur.
******
Keesokan harinya, kami lihat bu Nur sudah masuk. Kami langsung bergegas menemuinya dan meminta maaf.
“Ibu.. kami semua minta maaf ya bu.. kami janji tidak akan mengulanginya lagi.”, kataku sambil menyalami bu Nur dan memberikan mainan jilbab yang kami beli kemarin.
“Iya, ibu maafkan.. lain kali jangan seperti itu lagi. Ibu juga minta maaf karena sudah marah-marah kemarin. Ngomong-ngomong makasih hadiahnya. Hehehe.”, jawab bu Nur sambil tertawa.
Spontan kami semua yang ada disini tertawa. Kami bersepuluh, ditambah bu Nur saling berpelukan. Akhirnya, aku sadar, bahwa tidak semua yang baru itu begitu. Aku terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bu Nur guru yang sangat baik, dia penyayang. Dari sini aku bisa belajar untuk menerima. Menerima apapun itu.
Kini, aku sudah mulai beranjak dewasa. Jika kuingat-ingat lagi masa itu, rasanya sungguh mengharukan sekali. Ya, aku juga tidak menyangka, jika Bu Nur sekarang adalah tetanggaku.

"Sorry masih banyak kekurangan"



Karya : Bunga Anggraeni Rahayu
XI MIA 3 MAN Insan Cendekia Jambi